PENGERTIAN KONFLIK
Konflik berasal dari kata kerja latin configere yang berarti
saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses
sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak
berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak
berdaya.
Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri.
Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik.
Jenis- jenis konflik
1.
Konflik Personal dan Konflik Interpersonal
a. Konflik
Personal, konflik yang terjadi dalam diri seorang individu karena harus
memilih dari sejumlah alternatif pilihan yang ada atau karena mempunyai
kepribadian ganda. Konflik ini terdiri atas, antara lain sebagai berikut:
§ Konflik pendekatan ke pendekatan, yaitu konflik yang
terjadi karena harus memilih dua alternative yang berbeda, tetapi sama-sama
menarik atau sama baik kualitasnya. Misalnya, seorang lulusan SMA yang akan
melanjutkan seklah ahrus memilih dua universitas negeri yang sama kualitasnya.
§ Konflik menghindar ke menghindar, yaitu konflik yang
terjadi karena harus memilih alternative yang sama-sama harus dihindari.
Misalnya, seseorang yang harus memilih menjual sepeda motor untuk melanjutkan
sekolah, atau tidak menjual sepeda motor, tetapi tidak melanjutkan sekolah.
§ Konflik pendekatan ke menghindar, yaitu konflik yang
terjadi karena seseorang mempunyai perasaan posisitif dan negative terhadap
sesuatu yang sama. Misalnya, Wulan membuat surat untuk melamar pekerjaan, namun
karena takut tidak diterima akhirnya surat lamaran pekerjaannya tidak jaid
dikirim.
Konflik personal bisa terjadi pada diri seseorang yang
mempunyai kepribadian ganda. Ia adalah seseorang yang munafik dan melakukan
sesuatu yang berbeda antara perkataan dan perbuatan.
b. Konflik
Interpersonal, konflik yang terjadi di dalam suatu organisasi atau konflik
di tempat kerja diantara pihak-pihak yang terlibat konflik dan saling
ketergantungan dalam melaksanakan pekerjaan untuk mencapai tujuan
organisasi. Konflik yang terjadi di
antara mereka yang bekerja untuk suatu organisasi – profit atau nonprofit. Konflik interpersonal dapat terjadi dalam
tujuh macam sebagai berikut:
§ Konflik antarmanajer, bentuk konflik di antara
manajer atau birokrat organisasi dalam rangka melaksanakan fungsinya sebagai
pimpinan organisasi.
§ Konflik antar pegawai dan manajernya, konflik ini
terjadi antara manajer unit kerja dan karyawan di bawahnya.
§ Konflik hubungan industrial, konflik yang terjadi
antara organisasi atau perusahaan dan para karyawannya atau dengan serikat
pekerja.
§ Konflik antar kelompok kerja, dalam organisasi
terdapat sejumlah kelompok kerja yang melakukan tugas yang berbeda untuk
mencapai tujuan organisasi yang sama. Masing-masing kelompok harus memberikan
kontribusi dalam mencapai tujuan organisasi, dimana kelompok-kelompok kerja
tersebut saling memiliki ketergantungan.
§ Konflik antara anggota kelompok kerja dan kelompok
kerjanya, konflik yang terjadi dalam melaksanakan fungsi dan tugas dalam suatu
tim karena perbedaan latar belakang pendidikan, agama, budaya, pengalaman dan
kepribadian.
§ Konflik interes, konflik yang bersifat individual dan interpersonal yang terjadi
dalam diri seseorang pegawai yang terlibat konflik.
§ Konflik antara organisasi dan pihak luar organisasi,
konflik yang terjadi antara suatu perusahaan atau organisasi dan pemerintah;
perusahaan dan perusahaan lainnya; perusahaan dan pelanggan; perusahaan dan
lembaga swadaya masyarakat; serta perubahan dan masyarakat.
2. Konflik
Interes, konflik ini berkaitan dengan konflik dalam diri seseorang individu
dalam suatu sistem sosial (organisasi atau perusahaan) yang membawa implikasi
bagi individu dan sistem sosialnya. Konflik ini secara moral merusak
kepercayaan yang diberikan organisasi dan para anggotanya kepada pejabat yang
melakukannya. Konflik inters biasanya
terjadi dalam diri pemimpin, manajer atau pegawai karena mereka merupakan
individu dengan multiposisi dan multiperan.
Konflik
interes merupakan salah satu fenomena yang melatarbelakangi korupsi, kolusi dan
nepotisme di Indonesia. kebijakan untuk menanggulangi konflik interes perlu
disusun dan dilaksanakan secara sistematis, antara lain sebagai berikut:
a. Membaut definisi operasional mengenai
apa yang disebut sebagai konflik interes sehingga bisa dideteksi dan diukur,
disertai contoh-contohnya.
b. Adanya deskripsi tugas untuk setiap orang dalam
organisasi dan prosedur untuk melaksanakannya.
c. Adanya prosedur untuk menyelesaikan konflik interes.
d. Adanya sanksi terhadap orang yang melakukan
konflik interes.
e. Dilakukan pelatihan untuk menghindari
terjadinya konflik interes dank ode etik organisasi.
Konflik interes
banyak terjadi dalam pengadaan barang, jasa dan tender-tender proyek, baik di
lembaga pemerintah maupun di lembaga bisnis. Untuk mencegahnya, pemerintah
mengeluarkan Peraturan Pemerintah mengenai Pengadaan Barang dan Jasa. Untuk
pengadaan barang dalam nilai tertetu harus dilakukan tender atau melalui e-procurement.
3.
Konflik Realistis dan Konflik Nonrealistis
Lewis
Coser seperti dikutip oleh Joseph P. Folger dan Marshal S. Poole (1984)
mengelompokkan konflik menjadi konflik realistis dan konflik nonrealistis,
yaitu:
a. Konflik
realistis, terjadi karena perbedaan dan ketidak sepahaman cara pencapaian
tujuan atau mengenai tujuan yang akan dicapai. Interaksi konflik memfokuskan
pada isu ketidaksepahaman mengenai substansi atau objek konflik yang harus
diselesaikan oleh pihak yang terlibat konflik. Metode manajemen konflik yang
digunakan adalah dialog, persuasi, musyawarah, voting dan negosiasi.
b. Konflik
nonrealistis, konflik ini dipicu oleh kebencian atau prasangka terhadap
lawan konflik yang mendorong melakuka agresi untuk mengalahkan atau
menghancurkan lawan konfliknya. Metode manajemen konflik yang digunakan adalah
agresi, menggunakan kekuasaan, kekuatan dan paksaan. Konflik ini biasanya dipicu karena perbedaan
agama, suku, ras, bangsa, yang sudah menimbulkan kebencian mendalam.
4.
Konflik Destruktif dan Konflik Konstruktif
a. Konflik
konstruktif, konflik yang prosesnya mengarah kepada mencari solusi mengenai
substansi politik. Konflik jenis ini membangun sesuatu yang baru atau
mempererat hubungan pihak-pihak yang terlibat konflik; ataupun mereka
memperoleh sesuatu yang bermanfaat dari konflik. Pihak-pihak yang terlibat
konflik secara fleksibel menggunakan berbagai teknik manajemen konflik, seperti
negosiasi, give and take, humor
bahkan voting untuk mencari solusi
yang dapat diterima oleh kedua belah pihak.
Interaksi pihak-pihak yang
terlibat konflik merupakan interaksi membangun dan makin mendekatkan jarak
interaksi sosial diantara mereka dan membangun pihak-pihak yang terlibat
konflik untuk mencapai objektif mereka. Di samping itu, konflik jenis ini
memungkinkan interaksi konflik yang keras kembali normal dan sehat. Akhir dari
konflik ini adalah antara lain win &
win solution, solusi kolaborasi atau kompromi, serta meningkatkann
perkembangan dan kesehatan organisasi.
b. Konflik
destruktif, pihak-pihak yang terlibat konflik tidak fleksibel atau kakau
karena tujuan konflik didefinisikan secara sempit yaitu untuk mengalahkan satu
sama lain. interaksi konflik berlarut-larut, siklus konflik tidak terkontrol
karena menghindari isu konflik yang sesungguhnya. Interaksi pihak-pihak yang terlibat konflik
membentuk spiral yang panjang yang makin lama makin menjauhkan jarak
pihak-pihak yang terlibat konflik.
Pihak-pihak
yang terlibat konflik menggunakan teknik manajemen konflik kompetisi, ancaman,
konfrontasi, kekuatan, agresi, dan sedikit sekali menggunakan negosiasi untuk
mencapai win & win solution. Berikut adalah perbedaan karakteristik dari
konflik konstruktif dan konflik destruktif.
1. Perbedaan pendapat
Suatu konflik yang terjadi karena pebedaan pendapat dimana masing-masing pihak merasa dirinya benar, tidak ada yang mau
mengakui kesalahan, dan apabila perbedaan pendapat tersebut amat tajam maka dapat menimbulkan rasa kurang enak, ketegangan dan sebagainya.
Suatu konflik yang terjadi karena pebedaan pendapat dimana masing-masing pihak merasa dirinya benar, tidak ada yang mau
mengakui kesalahan, dan apabila perbedaan pendapat tersebut amat tajam maka dapat menimbulkan rasa kurang enak, ketegangan dan sebagainya.
2. Salah paham
Salah paham merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan konflik. Misalnya tindakan dari seseorang yang tujuan sebenarnya baik tetapi diterima sebaliknya oleh individu yang lain.
Salah paham merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan konflik. Misalnya tindakan dari seseorang yang tujuan sebenarnya baik tetapi diterima sebaliknya oleh individu yang lain.
3. Ada pihak yang dirugikan
Tindakan salah satu pihak mungkin dianggap merugikan yang lain atau masing-masing pihak merasa dirugikan pihak lain sehingga seseorang yang dirugikan merasa kurang enak, kurang senang atau bahkan membenci.
Tindakan salah satu pihak mungkin dianggap merugikan yang lain atau masing-masing pihak merasa dirugikan pihak lain sehingga seseorang yang dirugikan merasa kurang enak, kurang senang atau bahkan membenci.
4. Perasaan sensitif
Seseorang yang terlalu perasa sehingga sering menyalah artikan tindakan orang lain. Contoh, mungkin tindakan seseorang wajar, tetapi oleh pihak lain dianggap merugikan.
Baron & Byrne (dalam Kusnarwatiningsih, 2007) mengemukakan konflik disebabkan antara lain oleh perebutan sumber daya, pembalasan dendam, atribusi dan kesalahan dalam berkomunikasi. Sedangkan Soetopo (2001) juga mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya konflik, antara lain: (1) ciri umum dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik; (2) hubungan pihak-pihak yang mengalami konflik sebelum terjadi konflik; (3) sifat masalah yang menimbulkan konflik; (4) lingkungan sosial tempat konflik terjadi; (5) kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik; (6) strategi yang biasa digunakan pihak-pihak yang mengalami konflik; (7) konsekuensi konflik terhadap pihak yang mengalami konflik dan terhadap pihak lain; dan (8) tingkat kematangan pihak-pihak yang berkonflik. Ada enam kategori penting dari kondisi-kondisi pemula (antecedent conditions) yang menjadi penyebab konflik, yaitu: (1) persaingan terhadap sumber-sumber (competition for resources), (2) ketergantungan pekerjaan (task interdependence), (3) kekaburan bidang tugas (jurisdictional ambiguity), (4) problem status (status problem), (5) rintangan komunikasi (communication barriers), dan (6) sifat-sifat individu (individual traits) (Robbins, Walton & Dutton dalam Wexley & Yukl, 1988).
Schmuck (dalam Soetopo dan Supriyanto, 1999) mengemukakan bahwa kategori sumber-sumber konflik ada empat, yaitu (1) adanya perbedaan fungsi dalam organisasi, (2) adanya pertentangan kekuatan antar orang dan subsistem, (3) adanya perbedaan peranan, dan (4) adanya tekanan yang dipaksakan dari luar kepada organisasi.
Seseorang yang terlalu perasa sehingga sering menyalah artikan tindakan orang lain. Contoh, mungkin tindakan seseorang wajar, tetapi oleh pihak lain dianggap merugikan.
Baron & Byrne (dalam Kusnarwatiningsih, 2007) mengemukakan konflik disebabkan antara lain oleh perebutan sumber daya, pembalasan dendam, atribusi dan kesalahan dalam berkomunikasi. Sedangkan Soetopo (2001) juga mengemukakan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya konflik, antara lain: (1) ciri umum dari pihak-pihak yang terlibat dalam konflik; (2) hubungan pihak-pihak yang mengalami konflik sebelum terjadi konflik; (3) sifat masalah yang menimbulkan konflik; (4) lingkungan sosial tempat konflik terjadi; (5) kepentingan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik; (6) strategi yang biasa digunakan pihak-pihak yang mengalami konflik; (7) konsekuensi konflik terhadap pihak yang mengalami konflik dan terhadap pihak lain; dan (8) tingkat kematangan pihak-pihak yang berkonflik. Ada enam kategori penting dari kondisi-kondisi pemula (antecedent conditions) yang menjadi penyebab konflik, yaitu: (1) persaingan terhadap sumber-sumber (competition for resources), (2) ketergantungan pekerjaan (task interdependence), (3) kekaburan bidang tugas (jurisdictional ambiguity), (4) problem status (status problem), (5) rintangan komunikasi (communication barriers), dan (6) sifat-sifat individu (individual traits) (Robbins, Walton & Dutton dalam Wexley & Yukl, 1988).
Schmuck (dalam Soetopo dan Supriyanto, 1999) mengemukakan bahwa kategori sumber-sumber konflik ada empat, yaitu (1) adanya perbedaan fungsi dalam organisasi, (2) adanya pertentangan kekuatan antar orang dan subsistem, (3) adanya perbedaan peranan, dan (4) adanya tekanan yang dipaksakan dari luar kepada organisasi.
Sedangkan Handoko (1998) menyatakan bahwa sumber-sumber
konflik adalah sebagai berikut.
1. Komunikasi: salah pengertian yang berkenaan dengan
kalimat, bahasa yang sulit dimengerti, atau informasi yang mendua dan
tidak lengkap, serta gaya individu manajer yang tidak konsisten.
tidak lengkap, serta gaya individu manajer yang tidak konsisten.
2. Struktur: pertarungan kekuasaan antar departemen dengan
kepentingan-kepentingan atau sistem penilaian yang bertentangan, persaingan
untuk memperebutkan sumber-sumber daya yang terbatas, atau saling
ketergantungan dua atau lebih kelompok-kelompok kegiatan kerja untuk mencapai
tujuan mereka.
3. Pribadi: ketidaksesuaian tujuan atau nilai-nilai sosial
pribadi karyawan dengan perilaku yang diperankan pada jabatan mereka,
dan perbedaan dalam nilai-nilai atau persepsi.
Berbeda pula dengan pendapat Mangkunegara (2001) bahwa penyebab konflik dalam organisasi adalah: (1) koordinasi kerja yang tidak dilakukan, (2) ketergantungan dalam pelaksanaan tugas, (3) tugas yang tidak jelas (tidak ada diskripsi jabatan), (4) perbedaan dalam orientasi kerja, (5) perbedaan dalam memahami tujuan organisasi, (6) perbedaan persepsi, (7) sistem kompetensi intensif (reward), dan (8) strategi permotivasian yang tidak tepat. Berdasarkan beberapa pendapat tentang sumber konflik sebagaimana dikemukakan oleh beberapa ahli, dapat ditegaskan bahwa sumber konflik dapat berasal dari dalam dan luar diri individu. Dari dalam diri individu misalnya adanya perbedaan tujuan, nilai, kebutuhan serta perasaan yang terlalu sensitif. Dari luar diri individu misalnya adanya tekanan dari lingkungan, persaingan, serta langkanya sumber daya yang ada.
dan perbedaan dalam nilai-nilai atau persepsi.
Berbeda pula dengan pendapat Mangkunegara (2001) bahwa penyebab konflik dalam organisasi adalah: (1) koordinasi kerja yang tidak dilakukan, (2) ketergantungan dalam pelaksanaan tugas, (3) tugas yang tidak jelas (tidak ada diskripsi jabatan), (4) perbedaan dalam orientasi kerja, (5) perbedaan dalam memahami tujuan organisasi, (6) perbedaan persepsi, (7) sistem kompetensi intensif (reward), dan (8) strategi permotivasian yang tidak tepat. Berdasarkan beberapa pendapat tentang sumber konflik sebagaimana dikemukakan oleh beberapa ahli, dapat ditegaskan bahwa sumber konflik dapat berasal dari dalam dan luar diri individu. Dari dalam diri individu misalnya adanya perbedaan tujuan, nilai, kebutuhan serta perasaan yang terlalu sensitif. Dari luar diri individu misalnya adanya tekanan dari lingkungan, persaingan, serta langkanya sumber daya yang ada.
1. Faktor Penyebab Konflik
a. Perbedaan individu
Perbedaan kepribadian antar individu bisa menjadi faktor penyebab terjadinya konflik, biasanya perbedaan individu yang menjadi sumber konflik adalah perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang unik, artinya setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbedabeda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
Perbedaan kepribadian antar individu bisa menjadi faktor penyebab terjadinya konflik, biasanya perbedaan individu yang menjadi sumber konflik adalah perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang unik, artinya setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbedabeda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
b. Perbedaan latar belakang kebudayaan
Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
c. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan
yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda- beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan.
Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda- beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan.
Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
d. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan
itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu
terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami
proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab
nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian
secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri.
Tidak jauh berbeda dengan konflik, tentu saja setiap orang mengerti benar apa itu
motivasi. Motivasi berasal dari bahasa inggris yakni ‘move’ yang berarti
berpindah. Sedangkan motivasi dapat dibagi menjadi dua yakni motivasi internal
dan motivasi eksternal. Motivasi internal adalah motivasi dari dalam diri
yangbiasanya bersifat long last sedangkan motivasi eksternal merupakan motivasi
dari luar individu yang biasanya hanya
bersifat temporer. Berikut merupakan pengertian motivasi dari beberapa ahli :
1. Anton Irianto. Motivasi adalah sesuatu yang menggerakan
atau mendorong seseorang atau kelompok orang, untuk melakukan atau tidak
melakukan sesuatu.
2. Alan Loy Mcggins. Kemauan yang tinggi untuk mengerahkan
upaya menuju tujuan organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya untuk
memenuhi beberapa kebutuhan individual.
3. Weiner. Motivasi merupakan kondisi internal yang membangkitkan kita untuk
bertindak, mendorong kita mencapai tujuan tertentu dan membuat kita tetap
tertarik dalam kegiatan tertentu.
4. Uno. Motivasi merupakan sebuah dorongan internal dan eksternal dalam diri
seseorang yang diindikasikan dengan adanya hasrat dan minat untuk melakukan
kegiatan, dorongan dan kebutuhan untuk melakukan kegiatan, harapan dan cita-cita,
penghargaan dan penghormatan atas diri, lingkungan yang baik, serta kegiatan
yang menarik.
A. Teori-teori Motivasi
- Teori Hierarki Kebutuhan Maslow
Kebutuhan dapat didefinisikan sebagai suatu kesenjangan atau
pertentangan yang dialami antara satu
kenyataan dengan dorongan yang ada dalam diri. Kebutuhan merupakan
fundamen yang mendasari perilaku pegawai. Karena tidak mungkin memahami
perilaku tanpa mengerti kebutuhannya.
1. Teori Motivasi Kebutuhan ( menurut Abraham Maslow)
Teori motivasi yang paling terkenal adalah hierarki teori
kebutuhan milik Abraham Maslow. Ia membuat hipotesis bahwa dalam setiap
diri manusia terdapat hierarki dari lima kebutuhan, yaitu fisiologis (rasa
lapar, haus, seksual, dan kebutuhan fisik lainnya), rasa aman (rasa ingin
dilindungi dari bahaya fisik dan emosional), sosial
(rasa kasih sayang, kepemilikan, penerimaan, dan persahabatan), penghargaan
(faktor penghargaan internal dan eksternal), dan aktualisasi diri (pertumbuhan,
pencapaian potensi seseorang, dan pemenuhan diri sendiri).
Maslow memisahkan lima
kebutuhan ke dalam urutan-urutan. Kebutuhan fisiologis dan rasa aman
dideskripsikan sebagai kebutuhan tingkat bawah sedangkan kebutuhan sosial,
penghargaan, dan aktualisasi diri sebagai kebutuhan tingkat atas.
Perbedaan antara kedua tingkat tersebut adalah dasar pemikiran bahwa kebutuhan
tingkat atas dipenuhi secara internal sementara
kebutuhan tingkat rendah secara dominan dipenuhi secara eksternal. (Maslow.
(Inggris)A. Motivation and Personality. New York: Harper & Row, 1954, hal.
57-67.)
- Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
- Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
- Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
- Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
- Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya)
Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan
kebutuhan tersebut akan mendominasi tindakan
seseorang dan motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi kurang signifikan.
Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni minat estetika dan
intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat dipenuhi dengan mudah. Karya
seni dan karya ilmiah tidak akan tumbuh subur dalam masyarakat yang anggotanya
masih harus bersusah payah mencari makan,
perlindungan, dan rasa aman.
Prinsip pikiran Abraham Maslow berangkat dari kebutuhan
manusia yang disusun secara hierarki dari kebutuhan fisiologis sampai kebutuhan
pemenuhan diri. Abraham maslow menekankan prilaku manusia disebabkan oleh
motivasi tertentu yang bergerak secara sistematis demi sebuah “grows need” atau
pemuasan kebutuhan
2. Teori Motivasi Herzberg
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong
seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari
ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan
faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk
keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia,
imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan
faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang
termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan,
dsb (faktor intrinsik).
3. Teori achievement Mc Clelland
Menurut Mc Clelland (1961), menyatakan bahwa ada tiga
hal penting yang menjadi kebutuhan manusia, yaitu:
- Need for achievement (kebutuhan akan prestasi dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar, berusaha keras untuk berhasil.)
- Need for afiliation keinginan untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan akrab (kebutuhan akan hubungan sosial/hampir sama dengan soscialneed-nya Maslow)
- Need for Power kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya (dorongan untuk mengatur)
4. Teori X dan Y Douglass Mc Gregor
Douglas McGregor menemukan teori X dan teori Y setelah
mengkaji cara para manajer berhubungan dengan para karyawan. Kesimpulan
yang didapatkan adalah pandangan manajer mengenai sifat manusia didasarkan atas
beberapa kelompok asumsi tertentu dan bahwa mereka cenderung membentuk perilaku
mereka terhadap karyawan berdasarkan asumsi-asumsi tersebut.
Ada empat asumsi yang dimiliki manajer dalam teori X.
- Karyawan pada dasarnya tidak menyukai pekerjaan dan sebisa mungkin berusaha untuk menghindarinya.
- Karena karyawan tidak menyukai pekerjaan, mereka harus dipakai, dikendalikan, atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
- Karyawan akan mengindari tanggung jawab dan mencari perintah formal, di mana ini adalah asumsi ketiga.
- Sebagian karyawan menempatkan keamanan di atas semua faktor lain terkait pekerjaan dan menunjukkan sedikit ambisi.
Bertentangan dengan pandangan-pandangan negatif mengenai
sifat manusia dalam teori X, ada pula empat asumsi positif yang disebutkan
dalam teori Y.
- Karyawan menganggap kerja sebagai hal yang menyenangkan, seperti halnya istirahat atau bermain.
- Karyawan akan berlatih mengendalikan diri dan emosi untuk mencapai berbagai tujuan.
- Karyawan bersedia belajar untuk menerima, mencari, dan bertanggungjawab.
- Karyawan mampu membuat berbagai keputusan inovatif yang diedarkan ke seluruh populasi, dan bukan hanya bagi mereka yang menduduki posisi manajemen.
5. Teori Motivasi Clayton Alderfer
Clayton Alderfer mengetengahkan teori motivasi ERG yang
didasarkan pada kebutuhan manusia akan keberadaan (exsistence), hubungan
(relatedness), dan pertumbuhan (growth). Teori ini sedikit berbeda dengan teori
maslow. Disini Alfeder mengemukakan bahwa jika kebutuhan yang lebih tinggi
tidak atau belum dapat dipenuhi maka manusia akan kembali pada gerak yang
fleksibel dari pemenuhan kebutuhan dari waktu kewaktu dan dari situasi ke situasi.
6. Teori Motivasi Vroom
Teori dari Vroom (1964)
tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan
melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil
dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya
motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:
- Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
- Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
- Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan
Proses yang
mempengaruhi
Pengaruh adalah hal dimana seseorang dibujuk oleh orang
lain untuk melaksanakan suatu kegiatan sesuai dengan harapan orang yang
mempengaruhi.
Ada 3 elemen yg mempengaruhinya :
1. Orang yang
mempengaruhi (0)
2. Metode mempengaruhi
(→)
3. Orang yang dipengaruhi
(p)
0 → p jadi seperti itu bentuknya.
Proses pengambilan
keputusan
Proses pengambilan keputusan dalam organisasi adalah
kumpulan yang terdiri dari beberapa orang untuk mencapai
tujuan bersama, didalam organisasi rentan terjadinya selisih pendapat begitu
juga keputusan dalam mengambil sikap, dapat diartikan cara organisasi dalam
pengambilan keputusan. Ada 4 metode bagaimana cara pengambilan keputusan,
berikut metodenya :
a. Kewenangan tanpa
diskusi
Metode pengambilan keputusan ini seringkali digunakan oleh
para pemimpin otokratik atau dalam kepemimpinan militer.
b. Pendapat ahli
kadang-kadang seorang anggota organisasi oleh anggota
lainnya diberi predikat sebagai ahli (expert), sehingga memungkinkannya
memiliki kekuatan dan kekuasaan untuk membuat keputusan.
c. Kewenangan
setelah diskusi
Sifat otokratik dalam pengambilan keputusan ini lebih
sedikit apabila dibandingkan dengan metode yang pertama.
d. Kesepakatan
Kesepakatan atau konsensus akan terjadi kalau semua anggota
dari suatu organisasi mendukung keputusan yang diambil.
Menurut James A.F. Stoner, keputusan adalah
pemilihan antara alternatif-alternatif. Definisi ini mengandung tiga
pengertian, yaitu :
1. Manajer harus membuat
pilihan atas dasar logika atau pertimbangan.
2. Manajer menghadapi beberapa
alternatif yang harus dipilih salah satu yang terbaik
3. Manajer mempunyai tujuan
yang ingin dicapai, dan keputusan itu makin mendekati pada tujuan tersebut.
Berdasarkan dari pendapat James A.F. Stiner, Stephen P.
Robbins, dan David R. Hampton dapat disimpulkan bahwa proses pembuatan
keputusan mengandung langkah-langkah sebagai berikut :
1. Identifikasi masalah
2. Mendapatkan dan menganalisa
informasi
3. Menyusun alternatif
4. Menganalisa dan memilih
alternatif terbaik
5. Melaksanakan keputusan
Beda
wewenang,kekuasaan dan pengaruh
Beda pengaruh, kekuasaan, dan wewenang adalah kekuasaan itu
kemampuan untuk menggunakan pengaruh pada orang lain, artinya kemampuan untuk
mengubah sikap atau tingkah laku individu atau kelompok. Kekuasaan tidak
sama dengan wewenang, wewenang tanpa kekuasaan atau kekuasaan tanpa wewenang
akan menyebabkan konflik dalam organisasi. Wewenang adalah hak untuk memerintah
orang lain untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu agar tujuan dapat
tercapai. Pengaruh adalah hal dimana seseorang dibujuk oleh orang
lain untuk melaksanakan suatu kegiatan sesuai dengan harapan orang yang
mempengaruhi. Jadi opini saya kekuasaan akan menghasilkan wewenang dan dari
wewenang yang dilakukan itu akan timbul pengaruh dari organisasi itu.
sumber :